Pengertian Interaksionisme Simbolik George H. Mead

Pengertian Interaksionisme Simbolik George H. Mead

Pengertian interaksionisme simbolik adalah sebuah cara untuk memahami interaksi melalui simbol yang dilakukan saat proses interaksi tersebut dilakukan. Hasil pemahaman dalam proses interaksi tidak didapat melalui tindakan verbal atau pun non-verbal, tetapi melalui simbol-simbol yang muncul saat proses interaksi. Asumsi dasar interaksi simbolik ini muncul berkat buah pikir George H. Mead dan para ahli lain seperti Herbert Blumer.

Secara singkat, interaksionisme simbolik merupakan sebuah interaksi antara dua orang atau lebih yang menggunakan simbol tertentu. Contoh interaksionisme simbolik adalah saat Andi sedang belajar dan adiknya yang bernama Edi datang. Andi menempelkan jari telunjuknya ke mulut, memberikan isyarat bahwa Edi harus diam karena Andi sedang belajar. Dengan memahami contoh interaksi simbolik tersebut, kami harapkan bahwa pembaca dapat memahami definisi atau pengertian interaksionisme simbolik dengan mudah.

gambar-pengertian-interaksionisme-simbolik

Teori Pengertian Interaksionisme Simbolik Menurut George H. Mead

Teori ini dipelopori oleh George H. Mead, yang memunculkan akar pemikiran tentang teori interaksi simbolik. Ia menuturkan bahwa pragmatisme dan behaviorsime merupakan akar pemikiran munculnya teori ini. Pragmatisme sendiri merupakan salah satu cabang dari Ilmu Filsafat yang menekankan pada 3 aspek penting dalam interaksi simbolik.

Aliran Pragmatisme

Pertama, kita harus melihat interaksi yang terjadi antara seseorang dengan dunia nyata. Yang kedua, pragmatism melihat bahwa orang/aktor dan juga dunia nyata merupakan serangkaian proses dinamis dan bukan merupakan unsur statis. Ketiga, pragmatism melihat bahwa aktor tersebut dapat mengartikan kehidupan sosial.

Intinya, pemikiran pragmatism melihat pada nilai guna dan manfaat. Contohnya, orang berinteraksi tanpa memperhatikan prosesnya karena hanya berpikir terhadap hasil. Misalkan, Andi ingin lanjut kuliah S2, dan ia tidak peduli dengan cara apa yang akan ia lakukan, yang penting ia dapat lanjut S2.

Aliran pragmatism juga banyak dipengaruhi oleh pikiran para ahli filsafat yang akhirnya diadopsi dalam ilmu sosiologi karena masih memiliki keterikatan dengan proses interaksi sosial.

Aliran Behaviorisme

George Herbert Mead berpendapat bahwa dalam bertindak/berperilaku, ada pengaruh yang menjadi latar belakang mengapa manusia melakukan sesuatu tersebut. George H. Mead juga membagi aliras Behaviorisme menjadi dua bagian lagi, seperti;

Behaviorisme Sosial

Mead berpendapat bahwa manusia telah melalui proses berpikir yang rasional sebelum bertindak. Misalkan, Andi sedang belajar dan diganggu oleh adiknya. Andi ingin marah, tapi ia berpikir bahwa marah bukan tindakan terpuji. Maka Andi hanya berpesan agar sang adik tidak mengganggunya. Perilaku Andi merupakan contoh Behaviorisme Sosial dalam kehidupan nyata.

George H. Mead juga berpendapat bahwa Behaviorisme Sosial inilah yang membedakan manusia dengan mahkluk lain, dalam hal ini; hewan. Manusia selalu berpikir sebelum bertindak, memperhitungkan potensi dan resiko yang didapat jika ia melakukan tindakan karena dibekali dengan otak. Sedangkan hewan hanya bertindak berdasarkan naluri dan pengalaman yang dimiliki.

George H. Mead juga menegaskan bahwa manusia lebih kreatif karena mengalami proses berpikir yang komplek. Proses berpikir itulah yang menentukan tindakan/perilaku yang menghasilkan pengalaman yang berguna dalam kehidupan umat manusia.

Behaviorisme Radikal

Proses Behaviorisme Radikal merupakan negasi dari Behaviorisme Sosial. Ahli yang turut menyumbangkan pemikirannya di aliran ini adalah John Watson. Ia berpendapat bahwa Behaviorisme Radikal adalah perilaku manusia yang dilakukan tanpa proses berpikir yang rasional sebagai respon dari sebuah rangsangan. John Watson juga berpendapat bahwa mekanisme ini sama dengan hewan, dimana hewan tidak pernah berpikir sebelum bertindak.

Demikian pengertian interaksionisme simbolik menurut para ahli, dalam hal ini George H. Mead yang merupakan salah satu ahli sosiologi yang berperan besar dalam perkembangan Ilmu Sosiologi. Dengan memahami konsep dasar mengenai teori interaksi simbolik, kini siswa lebih mudah dalam menyusun makalah contoh teori interaksionisme simbolik.

Isyarat Signifikan dan Non-Signifikan

Teori interaksi simbolik menurut George H. Mead juga membahas mengenai bahasa isyarat, yang merupakan salah satu jenis komunikasi non-verbal yang digunakan oleh umat manusia. Perkembangan bahasa begitu cepat dan telah membantu umat manusia berkomunikasi dengan orang yang berasal dari daerah lain.

George H. Mead berpendapat bahwa pengertian isyarat signifikan adalah sebuah gesture atau bahasa tubuh yang mudah dipahami oleh orang lain. Hanya dengan memberikan isyarat tertentu, orang lain dapat mengerti arti yang dimaksud tanpa perlu berpikir. Contohnya adalah ibu jari yang diacungkan, yang merupakan isyarat global yang menandakan OK, atau baik-baik saja.

Sedangkan pengertian isyarat non-signifikan adalah kebalikannya, yaitu gesture atau bahasa tubuh yang sulit dimengerti oleh orang lain. Diperlukan pemahaman atau intrepretasi untuk mengetahui dari isyarat yang diberikan. Isyarat non signifikan biasanya hanya dimengerti oleh orang atau kaum-kaum tertentu dan digunakan sebagai isyarat khusus untuk berkomunikasi secara internal oleh kaum tersebut.

Itulah perbedaan isyarat signifikan dan non-signifikan yang masih erat kaitannya dengan pengertian interaksionisme simbolik yang diungkapkan oleh George Mead. Adapun pendapat lain tentang teori interaksionisme simbolik menurut Herbert Blumer yang bisa dibaca di halaman selanjutnya dalam website ini.

Incoming search terms:

  • interaksionisme simbolis
  • pengertian interaksionisme simbolik
  • pengertian interaksionisme simbolik dan sejarah singkat
  • pengertian interaksionisme
  • arti interaksionisme
  • pengertian i teraksionisme simbolik
  • pemahaman interaksionisme simbolis
  • pengertian interaksionalisme simbolik
  • pengertian dari interaksionisme simbolik
  • interaksisosial simbolik menurut George H Mead
Teori Pertukaran Sosial Homans dan Peter Blau

Teori Pertukaran Sosial Homans dan Peter Blau

Teori Pertukaran Sosial merupakan salah satu teori Sosiologi Modern yang menyatakan bahwa di dalam sebuah hubungan sosial ada unsur timbal balik, reward atau ganjaran, dan juga keuntungan yang saling mempengaruhi satu sama lain. Teori Pertukaran Sosial menganalisis tentang bagaimana hubungan manusia dengan orang lain dalam sebuah aktivitas yang menghasilkan hubungan timbal balik. Teori ini dikemukakan pertama kali oleh George C. Homans hingga selanjutnya, seorang mahasiswa Elmhurts College bernama Peter Blau mengembangkan teori pertukaran.

Meski diklasifikasikan dalam Teori Sosiologi Modern, namun Teori Pertukaran Sosial muncul dengan latar belakang ekonomi mikro, yakni saat seseorang memiliki motif untuk mendapatkan sesuatu atau untuk menghindar dari hukuman yang akan diterima jika orang tersebut tidak melakukan sesuatu. Singkatnya, orang melakukan sesuatu guna mendapatkan hal lain yang diinginkannya. Orang bekerja untuk mendapatkan uang. Orang bekerja agar tidak dimarahi oleh atasannya. Itulah esensi dari teori pertukaran dalam sudut pandang Ekonomi dan Sosiologi.

gambar-teori-pertukaran-sosial

Teori Pertukaran Sosial George Homans

Teori Pertukaran Sosial menurut George C. Homans bermula dari teori perilaku (behaviorism) dan juga teori pilihan rasional. Teori Behaviorisme menjelaskan tentang tingkah laku seseorang di sebuah lingkungan dan juga dampak yang didapatkan orang tersebut dari lingkungannya. Sedangkan teori Rasional merupakan sebuah teori yang menjelaskan bahwa manusia melakukan sesuatu berdasarkan nalar dan rasionalitas pikiran. Teori Rasionalitas ini melihat bahwa perilaku sosial merupakan buah  pertukaran dari sebuah aktivitas dari 2 orang atau lebih

Teori Pertukaran Sosial George Homans juga mengemukakan beberapa preposisi mengenai perilaku sosial manusia dalam aktivitas sehari-hari. Dengan memahami seluruh proposisi ini, anda akan lebih mudah dalam menyusun tugas pdf atau menyusun makalah Teori Pertukaran Sosial;

  1. Proposisi Sukses

George Homans berpendapat bahwa jika suatu tindakan yang dilakukan manusia dapat menghasilkan imbalan, maka manusia akan semakin sering melakukan tindakan tersebut agar mendapatkan imbalan atau reward. Contoh kasus proposisi sukses adalah dengan melakukan ibadah, manusia mendapatkan ganjaran berupa surga. Hasilnya, manusia rajin melakukan ibadah guna mendapatkan surga.

  1. Proposisi Stimulus

Homans berpendapat bahwa jika tiap rangsangan yang diberikan dapat menghasilkan imbalan, maka rangsangan atau stimulus makin sering diberikan. Contoh kasusnya adalah dengan memberikan rangsangan pada marketing produk berupa imbalan tambahan uang makan.

  1. Proposisi Nilai

George Homans dalam teori pertukaran berpendapat bahwa jika sebuah tindakan memberikan nilai positif bagi seseorang, maka orang tersebut akan melakukan tindakan yang sama berulang kali agar mendapatkan nilai positif tersebut.

  1. Preposisi Berkurangnya Kepuasan

Intinya, setiap orang memiliki titik jenuh. Tak heran jika seseorang telah mendapatkan reward yang sama berulang kali, maka tingkat kepuasan orang terhadap reward tersebut akan berkurang.

  1. Preposisi Tindakan Agresif-Menyenangkan

Perlu pemahaman dan contoh kasus agar anda dapat mengenai tentang proposisi ini. Proposisi Tindakan Agresif, seseorang gagal melakukan tindakan tertentu. Bukannya mendapatkan reward, orang tersebut justru mendapatkan hukuman. Hal tersebut menghasilkan tindakan agresif dan menjadi pelajaran bagi orang tersebut agar tidak melakukan kesalahan lagi. Proposisi Tindakan Menyenangkan, seseorang mendapatkan hadiah lebih dari apa yang ia bayangkan, maka orang tersebut akan menghasilkan tindakan yang menyenangkan dan cenderung melakukan tindakan yang sama berulang-ulang. Demikian ulasan tentang proposisi tindakan menyenangkan-agresif disertai contoh kasusnya.

  1. Proposisi Rasionalitas

Dalam memilih tindakan alternative, biasanya orang lebih memilih tindakan yang bernilai. Lalu, tindakan yang telah dipilih dilakukan lagi dan lagi untuk memperoleh keuntungan dan hasil yang lebih banyak.

Dengan mengetahui nilai dan juga esensi yang dikemukakan oleh George Caspar Homans mengenai teori pertukaran dalam ilmu sosiologi, siswa lebih mudah dalam merumuskan latar belakang untuk makalah dan tugas yang dibuat dalam file pdf. Selanjutnya, kita akan membahas tentang Teori Pertukaran Sosial menurut Peter Blau.

Teori Pertukaran Sosial Menurut Peter Blau

Jika George Caspar Homans melihat bahwa teori pertukaran terjadi karena ada beberapa unsur yang harus terpenuhi dan disertai dengan proposisi yang lengkap, teori pertukaran sosial menurut Peter Blau jauh lebih singkat. Peter Blau melihat bahwa teori pertukaran sosial hanya dipandang berdasarkan adanya Reward and Punishment.

Seseorang melakukan aktivitas hanya untuk mendapatkan keuntungan dan terhindar dari hukuman yang berlaku. Peter Blau juga membagi Reward (upah) dari 2 sifat dan jenis yang berbeda, seperti:

  1. Intrinsik, reward tidak melulu soal uang. Peter Blau berpendapat bahwa motif seseorang dalam melakukan hubungan sosial adalah untuk mendapatkan cinta, perhatian, kasih sayang dan juga kehormatan. Aspek Intrinsik melihat dari sisi perasaan manusia, sesuatu yang dapat membuat orang merasa senang.
  2. Ekstrinsik, reward yang diinginkan dari sebuah hubungan sosial berupa materi seperti uang, barang, pekerjaan dan juga hal lain. Peter Blau melihat bahwa dalam sebuah hubungan sosial, manusia selalu mencari keuntungan yang dapat menambah keuntungan secara materi.

Peter Blau melihat bahwa struktur sosial ada karena adanya interaksi dua orang atau lebih dan juga interaksi dengan kelompok lain. Konsep pertukaran sosial Peter Blau mengarah pada adanya ekspektasi seseorang tentang hadiah (reward) yang diinginkan dari hasil pertukaran yang dilakukan. Tapi, jika pertukaran tidak berjalan sesuai dengan ekspektasi atau tidak mendapatkan reward maka pertukaran tersebut akan diakhiri.

Sementara itu, bila memang hadiah (reward) yang diharapkan dapat terpenuhi, maka kemungkinan besar interaksi atau hubungan tersebut dapat terus berjalan. Jika ada ketidakseimbangan terkait hadiah yang diperoleh antara 2 pihak yang melakukan pertukaran interaksi maka kemungkinan akan terjadi kesenjangan dimana satu pihak lebih memegang kendali dari pihak yang lain. Semoga artikel di website https://sosioekonomi.com bermanfaat untuk pembaca.

Incoming search terms:

  • contoh teori pertukaran sosial dalam kehidupan sehari hari
  • teori pertukaran sosial pdf
  • teori pertukaran sosial peter blau
  • contoh kasus teori pertukaran sosial
  • motif pertukaran sosial
  • rasionalitas ekonomi dalam pertukaran sosial
  • teori pertukaran sosial petter bleu
  • pertukaran sosiologi menurut homans
  • teori pertukaran sosial george homans pdf
  • pengertian dari teori pertukaran menurut peter m blau
Teori Dramaturgi Erving Goffman

Teori Dramaturgi Erving Goffman

Teori Dramaturgi Erving Goffman adalah sebuah pandangan mengenai kehidupan sosial yang dianggap mirip seperti sebagai sebuah pertunjukan drama dalam sebuah pertunjukkan. Erving Goffman menilai bahwa kehidupan sosial yang kita miliki sekarang seperti sebuah panggung sandiwara dimana setiap orang memiliki peran dan ‘alur cerita’ yang menghasilkan sebuah konflik dan gambaran kehidupan.

Dalam teori Erving Goffman, ia beranggapan bahwa peran yang dimainkan oleh aktor dilakukan dengan bahasa atau melalui gerakan. Erving Goffman menambahkan, dalam perannya, aktor tersebut juga memiliki atribut dan juga ekspresi yang mencerminkan perannya. Dramaturgi juga dianggap sebagai bagian dari interaksionalisme simbolik, yang menganggap bahwa interaksi yang terjadi bisa menghasilkan sebuah makna dan nilai.

Dalam teori Dramaturgi Erving Goffman berpendapat tentang analoginya tentang kehidupan dan panggung drama. Ia membagi 2 unsur wilayah yang ada dalam sebuah pertunjukkan;

  1. Front Region atau wilayah depan
  2. Back Region atau wilayah belakang

Teori Erving Goffman tentang Dramaturgi ini mencoba untuk membedah unsur-unsur Dramaturgi yang ada dalam sebuah pertunjukan drama. Front Region atau wilayah depan merupakan wilayah yang dapat dinikmati oleh penonton, yakni panggung yang dilihat dari tempat duduk penonton. Sedangkan Back Region atau wilayah belakang, adalah sebuah back stage yang merupakan tempat para aktor berlatih tentang peran yang dimainkan sebelum dibawakan ke panggung utama.

gambar-teori-dramaturgi-erving-goffman

Dalam asumsi teori Dramaturgi Erving Goffman juga mencoba membedah secara rinci tentang konsep Front Region, yang dibaginya menjadi dua bagian lagi. Berikut ulasan lengkapnya tentang Front Region;

  1. Personal Front

Personal Front merupakan persona dari pemeran. Personal Front juga dicerminkan dalam bahasa tubuh dan juga cara berbicara sang pemeran. Misalnya, aktor tersebut memiliki peran sebagai Kiyai, maka aktor tersebut harus memiliki tutur kata yang lembut, memiliki ekspresi wajah yang alim dan ramah, mengenakan pakaian serba putih dan sorban, dan beberapa hal yang berkaitan dengan persona seorang Kiyai alim pada umumnya.

2. Setting

Sedangkan setting diartikan sebagai latar atau tempat dimana peran tersebut dilakukan. Masjid merupakan setting tempat yang cocok untuk digunakan untuk memainkan drama dengan pemeran utama sang Kiyai. Setting lebih identik pada situasi fisik yang menggambarkan kondisi tertentu yang memperkuat peran aktor di dalam sebuah drama.

Dalam teorinya, Erving Goffman lebih menitikberatkan fokusnya pada interaksi yang terjadi dalam sebuah drama. Meski terlihat memiliki struktur yang jelas, namun dalam realita orang lebih cenderung untuk menampilkan sesuatu yang diinginkannya dan orang merasa perlu untuk menyembunyikan beberapa hal yang tak perlu diketahui oleh penonton.

Konsep Teori Dramaturgi Erving Goffman

Teori yang dikemukakan oleh Erving Goffman banyak dipengaruhi oleh George Herbert Mead dalam karya tulisnya yang berjudul The Self. Pendekatan Dramaturgi memiliki fokus pada bagaimana mereka melakukan peran yang baik dalam sebuah pertunjukkan drama. Ia tidak melihat motif di balik sebuah drama pertunjukkan, tetang mengapa orang melakukan drama dan apa yang ingin mereka lakukan dengan drama tersebut.

Teori Dramaturgi melihat pada dimensi impresif dan ekspresi dari suatu aktivitas manusia dalam sebuah drama dan juga kehidupan nyata. Konsep teori Dramaturgi Erving Goffman juga memiliki konsep seperti Impression Management, Outside, Mistification dan juga Dramaturgi Loyalty and Team.

Impression Management

Maksud dari Impression Management dalam teori Dramaturgis Erving Goffman adalah bagaimana seorang aktor membangun kesan yang sesuai dengan peran yang dimainkan. Misalnya, Andi berperan sebagai Kiyai. Maka kesan apa saja yang dapat dibangun oleh Andi? Dalam peran, Andi dapat membangun kesan sebagai Kiyai dengan cara berpenampilan rapi dengan baju koko lengkap beserta dengan sorban. Andi juga sering berada di Masjid dan mengaji. Andi juga sering berkotbah di acara-acara keagamaan. Dengan demikian, Andi sedang membangun peran sebagai Kiyai di mata penonton.

Outside

Dalam teori Dramaturgi Erving Goffman juga berbicara mengenai kebingungan penonton dalam sebuah pertunjukkan. Wilayah atau momen dimana penonton bingung terhadap situasi yang terjadi itulah yang dinamakan dengan Outside.

Contoh teori Dramaturgi tentang outside, Andi merupakan Kiyai yang dianggap alim dan sopan. Namun suatu saat, Anda terpergok sedang berada di sebuah Bar bersama teman wanita. Sikap/aktivitas kontradiktif itulah yang menimbulkan kebingungan di mata penonton. Dalam konsep teori Dramaturgis, hal tersebut dinamakan sebagai Outside.

Mistifikasi

Konsep teori Dramaturgi menurut Erving Goffman juga mengenal tentang mystification, atau cara aktor untuk membatasi diri dengan penonton. Kita analogikan dalam kehidupan nyata, dimana seorang Kiyai berusaha untuk memberikan jarak/batas dengan orang di sekitarnya, misalnya dengan mencoba galak pada orang yang tidak taat pada agama.

Dramaturgical, Loyalty and Team

Terakhir, dalam konsep teori Dramaturgis juga dikenal istilah Loyalty, Dramaturgical and Team. Maksudnya, dalam sebuah drama, ada bantuan secara tidak langsung dari penonton. Misalnya saat Andi sang Kiyai sedang melakukan kotbah, maka penonton secara tidak langsung juga berperan sebagai jamaah yang mendengarkan kotbah. Dan saat Andi berperan sebagai Dosen, maka penonton secara tidak langsung berperan sebagai murid yang juga sedang mendengarkan pelajaran yang disampaikan olehnya.

Demikian ulasan lengkap tentang konsep dan teori Dramaturgi menurut Erving Goffman. Adapun beberapa teori Sosiologi Modern lain yang akan dibahas di website sosioekonomi.com seperti Teori Fenomenologis, Teori Etnometodologi, Teori Pertukaran Sosial dan beberapa teori lain. Dengan mempelajari tersebut, membuat tugas atau makalah pdf pun mudah.

Incoming search terms:

  • teori dramaturgi
  • dramaturgi
  • teori erving goffman
  • goffman membagi ekspresi ke dalam dua macam yaitu
  • erving goffman dramaturgi
  • dramaturgi sosiologi
  • konsep dramaturgi
  • erving goffman teori
  • wilayah kerja seorang dramaturg
  • goffman membagi ekspresi kedalam dua macam
Pengertian Teori Konflik Dahrendorf

Pengertian Teori Konflik Dahrendorf

Teori Konflik Dahrendorf – Dasar pemikiran utama dari teori konflik memang berkiblat dari apa yang dipikirkan oleh Karl Marx. Namun seiring berkembangnya waktu, beberapa ahli sosiologi pun turut mengemukakan hasil pemikirannya untuk memperbaiki apa yang sudah dipikirkan oleh si Bapak Sosiologi. Dalam perkembangannya, ada dua ahli sosiologi modern yang merasa kurang puas terhadap apa yang sudah diutarakan oleh aliran Marxisme yang dianggap sebagai teori sosiologi klasik.

Tokoh pertama yang ‘memperbaiki’ hasil pemikiran Karl Marx adalah Lewis A. Coser. Teori konflik Lewis Coser ini berusaha untuk mempersatukan kedua pendekatan teori yang sudah ada; yakni teori konflik dan teori fungsionalis. Ia percaya bahwa ada sudut pandang lain yang bisa digali dalam teori konflik. Bahwa konflik tidak selalu memberikan dampak buruk, tetapi konflik juga dapat menghasilkan suatu perubahan yang memberikan dampak positif bagi masyarakat. Untuk mengetahui teori konflik menurut Lewis Coser, silahkan berkunjung ke link di bawah ini:

[Pengertian Teori Konflik Menurut Lewis Coser]

Sejarah awal teori konflik Lewis A. Coser pun berbuntut panjang karena ada ahli Sosiologi dari Jerman yang juga turut memberikan hasil pemikirannya. Adalah Ralf Dahrendorf, yang mengalihbahasakan karya tulisnya dari bahasa Jerman ke dalam Bahasa Inggris saat ia berkunjung ke negeri Paman Sam. Jika Lewis Coser mengembangkan pemikirannya berdasarkan teori Simmel untuk mengembangkan pemikirannya, Ral Dahrendorf justru menambahkan hasil pemikirannya untuk menguatkan teori sosiologi dari Karl Marx – meski di beberapa bagian, ada beberapa hal yang sepertinya tidak menyetujui hasil pemikiran teori sosiologi Karl Marx.

teori konflik Dahrendorf

Teori Konflik Menurut Ralf Dahrendorf

Teori konflik yang dikemukakan oleh Ralf Dahrendorf juga berasal dari penolakannya terhadap teori fungsionalisme struktural. Dalam karya tulisnya yang diberi judul Class & Class Conflict in Industry Society. Dalam buku tersebut Dahrendorf mengungkapkan bahwa masyarakat selalu mengikuti proses perubahan dan konflik pertikaian turut memberikan andil dalam perubahan dan dis-integrasi. Mereka yang memiliki kekuasaan akan selalu berusaha untuk memaksa masyarakat untuk hidup teratur guna menjaga ketertiban di lingkungan masyarakat.

Dahrendorf juga mengemukakan sebuah konsep yang akhirnya dikenal dengan teori konflik dialektika, dimana masyarakat punya dua sisi. Dahrendorf melihat bahwa masyarakat dalam kehidupan sosialnya dapat menimbulkan konflik dan di sisi lain bisa menimbulkan kerja sama yang baik.

Teori konflik akan melihat konflik kepentingan dan ketidakserasian dalam tatanan masyarakat sedangkan teori konsesus digunakan untuk menguji seberapa jauh masyarakat bisa saling bekerja sama dalam kelompok dan bersatu. Hal ini yang mendorong bahwa teori sosiologi harus dibagi mejadi dua bagian, yakni teori konflik dan juga teori konsensus.

Bentuk Konflik Menurut Dahrendorf

Dalam kelanjutannya, ada beberapa bentuk konflik menurut Ralf Dahrendorf yang dilihat dari berbagai sudut pandang.

  • Konflik Peran

Bentuk konflik peran merupakan suatu kondisi dimana seseorang mendapati kenyataan yang berlawanan  dengan perannya dalam kehidupan nyata. Contoh kasus teori konflik Ralf Dahrendorf ini adalah peran seorang pekerja yang ternyata dituntut untuk mengerjakan sesuatu yang bukan menjadi tanggung jawabnya.

  • Konflik Kelompok Sosial

Konflik antara kelompok sosial terjadi karena adanya perbedaan kepentingan dalam upayanya mencukupi kebutuhan kelompok tersebut. Contoh konflik antar kelompok sosial adalah konflik antara kelompok Pro Pemerintah dan kelompok Anti Pemerintah di suatu negara.

  • Konflik antar Kelompok yang Terorganisir dan Kelompok yang tidak Terorganisir

Konflik ini biasanya terjadi saat unjuk rasa. Dimana polisi, kelompok yang terorganisir dan memiliki tujuan yang jelas harus mengatasi masa pendemo yang tidak terorganisir, brutal dan semena-mena.

  • Konflik Antar Satuan Nasional

Konflik ini juga disebut sebagai konflik antar kepentingan organisasi. Contoh kasus teori konflik Ralf Dahrendorf adalah konflik organisasi politik di tingkat RT, RW, Desa, Kecamatan hingga tingkat Nasional.

  • Konflik Antar Agama

Konflik ini sering terjadi di jaman dahulu, dimana konsep toleransi belum diadopsi oleh masyarakat tradisional.

Itulah beberapa bentuk konflik menurut Ralf Dahrendorf beserta contoh kasus teori konflik dalam kehidupan nyata.

**

Ralf Dahrendorf juga mengungkapkan bahwa penyebaran otoritas yang tidak merata merupakan hal yang mendorong terciptanya konflik sosial yang sistematis. Pendapat Ralf Dahrendorf mengenai konflik sosial juga menambahkan bahwa otoritas yang dipegang oleh tiap golongan masyarakat memiliki kekuatan yang berbeda. Meski seseorang bisa memiliki kekuasaan di suatu bidang, namun orang yang sama belum tentu bisa menguasai bidang lain dalam konteks status sosial.

Biasanya, orang yang memiliki kekuasaan tidak ingin ada orang atau golongan lain yang merebut kekuasaan yang dimilikinya. Penguasa tersebut akan selalu berusaha untuk mempertahankan status dan kekuasaannya agar tidak jatuh ke tangan orang lain. Hal ini yang melahirkan konflik, dimana jika tingkat intensitas konflik tersebut tinggi, maka akan terjadi perubahan yang radikal. Sedangkan jika sampai terjadi konflik yang menimbulkan kekerasan, maka akan bisa terjadi perubahan struktur sosial mendadak.

Dengan berubahnya sistem sosial, maka berubah pula tatanan dalam masyarakat. Ralf Dahrendorf menjabarkan ada 3 poin mengenai perubahan dalam tubuh masyarakat Industri, yakni:

  1. Dekomposisi Modal

Ia mengungkapkan bahwa adanya kekuatan korporat yang memiliki saham dalam jumlah besar membuat hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki kekuasaan dan kontrol penuh.

  1. Dekomposisi Tenaga Kerja

Di jaman modern ini, seorang eksekutif atau seseorang yang menjalankan perusahaan belum merupakan pemilik perusahaan tersebut. Pemilik perusahaan biasanya lebih memilih untuk merekrut pegawai terbaik untuk menjalankan perusahaan miliknya. Dengan sistem manajemen yang baik, pemilik perusahaan hanya perlu mendelegasikan keinginannya untuk dijalankan oleh menejemen perusahaan.

  1. Muncul Kelas Sosial Baru

Ralf Dahrendorf mengungkapkan bahwa di akhir abad 19, ada kelas kelas baru dalam tatanan masyarakat pekerja dimana mereka yang memiliki keahlian akan berada di golongan pekerja kelas atas, sedangkan mereka yang tidak memiliki keahlian khusus akan menjadi buruh di golongan paling bawah.

Dari penjabaran di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa teori konflik Dahrendorf berbicara mengenai adanya pertentangan golongan berbentuk konflik dan merupakan asal dari perubahan sosial. Teori konflik Dahrendorf tidak menyanggah apa yang telah diutarakan dalam teori sosiologi klasik Karl Marx, tetapi memperbaiki agar sesuai dengan konsep kehidupan modern.

Konsep yang ditawarkan oleh Ralf Dahrendorf menyebutkan bahwa kepemilikan sarana produksi bukan lagi menjadi dasar untuk mentukan kelas sosial, tapi ada parameter baru untuk menentukan golongan sosial masyarakat. Meski demikian, tetap ada 2 kelas sosial di kehidupan masyarakat, yakni mereka yang memiliki kekuasaan dan mereka yang dikuasai oleh penguasa.

Secara empiris, Ralf Dahrendorf melihat bahwa lebih mudah untuk melihat pertentangan kepentingan golongan dari sudut pandang hubungan kekuasaan. Kelompok penguasa selalu ingin mempertahankan status quo-nya sedangkan kepentingan yang diusung oleh masyarakat bawah selalu dianggap akan membawa ancaman bagi penguasa.

Jangan lupa untuk menyebutkan sumber, sosioekonomi.com jika ingin mengutip artikel ini. Untuk makalah teori konflik menurut Dahrendorf, anda bisa menghubungi kami melalui laman Contact Us.

Incoming search terms:

  • contoh teori konflik
  • teori konflik menurut ralf dahrendorf
  • teori konflik ralf dahrendorf
  • pengertian konflik menurut ralf dahrendorf
  • konflik menurut ralf dahrendorf
  • teori konflik dahrendorf
  • contoh kasus teori konflik ralf dahrendorf
  • teori ralf dahrendorf
  • contoh dari teori konflik
  • konflik menurut dahrendorf
Pengertian dan Teori Konflik Sosial

Pengertian dan Teori Konflik Sosial

Teori Konflik Sosial – Menurut website resmi Wikipedia, apa yang dimaksud dengan teori konflik sosial adalah sebuah teori yang melihat jika perubahan sosial itu bukan terjadi melalui proses penyesuaian nilai yang memberikan perubahan. Akan tetapi, perubahan sosial itu terjadi karena ada konflik yang akhirnya melahirkan kompromi yang berbeda dari kondisi awal.

Secara singkat, pengertian teori konflik sosial adalah teori yang menyatakan bahwa konflik sosial ternyata melahirkan perubahan yang baik bagi masyarakat karena melahirkan nilai-nilai baru yang bisa dikompromikan. Perspektif dari teori konflik ini hampir sama dengan perspektif dari teori fungsional, dimana kedua teori tersebut melihat bahwa masyarakat memiliki golongan (kasta) masing-masing. Letak perbedaan teori konflik dengan teori fungsionalisme struktural ada pada fungsi dan peran golongan atau kasta tersebut. Dalam teori fungsionalisme struktural, setiap golongan masyarakat memiliki perannya tersendiri. Sedangkan dalam teori konflik, setiap golongan berusaha untuk menjadi lebih baik dan mengalahkan golongan lain demi tercapainya tujuan dan kepentingan golongan tersebut.

Teori Konflik Sosial

Para ahli seperti Jonathan Turner menyebutkan bahwa pada dasarnya tak ada definisi yang pasti mengenai teori konflik sehingga tidak bisa dibedakan secara gambling. Bahkan, Jonathan Turner menyebutkan jika analisis dari teori konflik masih mengambang. Berbeda dengan Karl Marx, yang diberi gelar Bapak Sosiologi Dunia. Pengertian teori konflik menurut Karl Marx lahir berdasarkan pengamatannya di jaman ia hidup.

Karl Marx menganggap bahwa konflik terjadi karena adanya kesenjangan antara kaum penguasa (borjuis) dan juga kaum pekerja (masyarakat proletar). Kaum borjuis menguasai hampir semua mesin-mesin produksi yang memegang peran penting dalam menghasilak kebutuhan pokok masyarakat. Sedangkan kaum proletar hanya pekerja yang membuat kaum borjuis semakin kaya. Kaum proletar dianggap sebagai alat untuk mencapai tujuan kaum borjuis, yaitu mendapatkan keungungan sebanyak-banyaknya.

Pengertian Teori Konflik Sosial Menurut Para Ahli

Namun sebelum lebih jauh membahas tentang teori konflik sosial, mari kita mendekat dan memahami apa pengertian konflik menurut para ahli Sosiologi.

  • Pengertian Konflik Menurut Taquiri dalam Newstorm dan Davis (1977)

Konflik adalah sebuah kenyataan dalam kehidupan sosial yang akan berlaku dalam semua aspek kehidupan karena adanya ketidaksepakatan dalam masyarakat. Pertentangan ini yang menimbulkan konflik sosial.

  • Pengertian Konflik Menurut Gibson

Ia menilah bahwa konflik lahir karena dalam sebuah kelompok ada beberapa kepentingan yang berbeda. Kerja sama memang dapat melahirkan hubungan yang baik, tapi di sisi lain juga dapat menimbulkan konflik.

  • Pengertian Konflik Menurut Muchlas (1999)

Konflik aadlah hasil dari interaksi beberapa pihak yang saling bekerjasama dan saling bergantung satu sama lain. Hanya saja mereka tidak memiliki tujuan yang sama.

  • Pengertian Konflik Menurut Robbin (1996)

Pada dasarnya, konflik lahir karena adanya perbedaan tujuan. Jika perbedaan ini menjadi masalah, maka itu dianggap sebagai konflik kepentingan.

  • Pengertian Konflik Menurut Minnery (1985)

Pengertian ini mirip dengan apa yang dikemukaan oleh Gibson, memandang bahwa konflik ada karena ketidaksepahaman antara dua pihak yang sedang bekerja sama.

  • Pengertian Konflik Menurut Berstein (1965)

Konflik merupakan sesuatu yang tidak dapat dicegah karena perbedaan pandangan selalu ada. Ia menambahkan, konflik bisa melahirkan sesuatu yang baru yang baik atau sebaliknya.

  • Pengertian Konflik Menurut Robert M.Z Lawang

Konflik dianggap sebagai salah satu bentuk perjuangan untuk mengambil alih kekuasaan. Selain itu, konflik juga merupakan cara untuk melenyapkan kompetitornya.

  • Pengertian Konflik Menurut Ariyono Suyono

Konflik merupakan proses antara 2 pihak yang ingin menjatuhkan satu sama lain.

  • Pengertian Konflik Menurut Soerjono Soekanto

Ia mengemukakan bahwa konflik adalah salah satu bentuk dari proses sosial dimana sekelompok orang yang ingin memenuhi kebutuhannya dengan cara menjegal kelompok lain.

Berdasarkan pendapat para ahli mengenai konflik, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa konflik lahir karena adanya 2 kelompok yang berseberangan – baik dari sudut pandang, kepentingan atau tujuan. Dalam pandangan ekstrimis, konflik terkadang melibatkan ancaman, kekerasan dan usaha untuk merugikan kompetitor.

Ada pula beberapa tambahan teori konflik yang terkenal, yakni teori konflik sosial menurut Ralf Dahrendorf. Menurutnya, masyarakat sosial memiliki dua sisi; konflik & konsesus atau yang juga kita ketahui sebagai teori konflik dialektika. Masyarakat memiliki dua sisi yang berbeda, bahwa masyarakat bisa tunduk dan ikut dengan perubahan yang ada yang bisa menyebabkan konflik. Atau manusia bisa saling bekerja sama karena melahirkan integrasi dalam lingkungan sosial.

Teori Penyebab Konflik

Semua yang terjadi di dunia ini pasti memiliki sebab dan akibat. Sebelum kita mengetahui dampat dan akibat dari konflik, mari kita lihat beberapa teori yang menganggap penyebab terjadinya konflik dalam tatanam sosial masyarakat.

  1. Teori Hubungan Masyarakat

Teori ini menganggap bahwa konflik ada karena ada dis-trust­, atau sebuah golongna tidak percaya pada golongan lain.

  1. Teori Negosiasi Prinsip

Teori ini menganggap bahwa konflik ada karena adanya perbedaan nilai-nilai dan sudut pandang.

  1. Teori Kebutuhan Manusia

Teori ini menganggap bahwa konflik terjadi karena manusia menemukan penghalang saat berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

  1. Teori Identitas

Konflik lahir karena sebuah golongan merasa terancam identitasnya.

  1. Keori Kesalahpahaman antar Budaya

Teori ini menganggap bahwa konflik ada karena ada kesalahpahaman dalam berkomunikasi saat menyelesaikan sebuah masalah bersama.

  1. Teori Transformasi Konflik

Teori ini menganggap bahwa konflik ada karena adanya ketidakadilan dalam beberapa aspek sosial, ekonomi dan juga budaya.

Faktor Penyebab Terjadinya Konflik

Selain mempelajari teori penyebab konflik sosial, kita juga harus melihat faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya konflik dalam tatanan masyarakat. Berikut beberapa faktor yang menyebabkan adanya konflik sosial.

  1. Perbedaan Perasaan dan Prinsip

Setiap manusia tentu memiliki prinsip masing-masing. Dan jika prinsip tersebut dilecehkan atau tidak diterima oleh orang lain, maka ada kekecewaan dan individu tersebut merasa tidak diterima. Individu yang merasa terancam dan terganggu tentu akan berusaha untuk memberontak. Hasil dari pemberontakan inilah yang disebut dengan konflik.

  1. Perbedaan Latar Belakang dan Budaya

Setiap orang memiliki asal yang berbeda dimana di tempat asalnya, mereka terbiasa hidup dengan budaya dan kebiasaan dalam lingkungannya. Perbedaan budaya dan latar belakang ini juga bisa menimbulkan konflik.

  1. Perbedaan Kepentingan

Ini merupakan faktor utama penyebab konflik sosial yang sering terjadi. Setiap orang atau golongan memiliki kepentingan sendiri dalam hidupnya. Jika kepentingan ini berbenturan dengan kepentingan lain, maka konflik akan timbul sebagai bentuk perbedaan kepentingan.

  1. Perubahan Nilai dalam Masyarakat

Terakhir, salah satu penyebab konflik adalah adanya perubahan nilai nilai sosial dalam masyarakat. Perubahan akan selalu terjadi di dalam hidup dan nilai yang lama akan selalu tergantikan dengan nilai nilai yang baru. Adanya perbedaan nilai dalam masyarakat dapat menimbulkan konflik sosial.

Dari kesimpulan di atas, kini Anda dapat menyusun makalah teori konflik Karl Marx maupun Ralf Dahrendorf. Dalam menyusun tugas atau resume teori konflik, pastikan Anda juga menyebutkan akibat dari adanya permasalahan yang diangkat dalam makalah tersebut. Sebutkan pula solusi untuk mengatasi konflik sosial.

Dalam kehidupan nyata, ada beberapa solusi untuk mengatasi konflik sosial dalam masyarakat. Membina komunikasi yang baik, saling menghargai kepentingan dan meningkatkan rasa toleransi merupakan solusi untuk mengatasi konflik. Dengan cara cara mengatasi konflik tersebut, suatu perbedaan dapat diselesaikan secara damai.

Demikian informasi mengenai pengertian dan teori konflik sosial. Jangan lupa untuk menyebutkan sosioekonomi.com jika ingin mempublikasikan tulisan ini di blog atau media sosial. Semoga bermanfaat!

Incoming search terms:

  • teori konflik
  • teori konflik sosial
  • pengertian teori konflik
  • teori konflik menurut para ahli
  • sebutkan faktor penyebab konflik sosial menurut teori konflik
  • teori konflik menurut para ahli sosiologi
  • faktor penyebab konflik sosial menurut teori konflik
  • teori konflik adalah
  • teori konflik sosial menurut para ahli
  • penjelasan teori konflik
error: Content is protected !!